Review Anime Fairy Gone

Kisah ini terjadi di dunia di mana peri merasuki dan tinggal di dalam makhluk hidup, memberi mereka kemampuan misterius. JIka dimasukkan ke dalam manusia, peri dapat menjadi alter ego dan digunakan sebagai senjata. Orang yang menggunakan alat perang disebut “Prajurit Peri.” Setelah perang berakhir dan mereka menyelesaikan peran mereka, para prajurit kehilangan tujuan mereka. Beberapa memilih bekerja untuk pemerintah, beberapa bergabung dengan mafia, dan beberapa bahkan menjadi teroris, karena mereka memilih cara hidup mereka sendiri.

Sembilan tahun telah berlalu sejak perang. Sang protagonis Maria adalah rekrut baru “Dorothea,” sebuah organisasi yang menyelidiki dan menekan kejahatan yang berkaitan dengan peri. Di tengah situasi politik yang tidak stabil, para penjahat yang memiliki luka batin akibat perang dan konflik masa lalu muncul dan terlibat dalam terorisme sebagai tindakan balas dendam. Ini adalah kisah Prajurit Peri, yang memperjuangkan keadilan mereka sendiri di dunia pascaperang yang kacau.

First Impression

Mulus sekali. Jadi, di suatu dunia dengan era yang mirip seperti era revolusi industri Eropa, peri pernah digunaan sebagai senjata perang dengan cara dirasukkan ke dalam tubuh manusia dan membuat mereka mempunyai alter ego yang super (semacam alter ego dalam Ajin).

Namun, perang sudah selesai, dan para prajurit sakti itu tidak memiliki tujuan lagi. Manusia yang dirasuki peri dalam tubuhnya adalah ilegal, kecuali yang tergabung dalam organisasi khusus bentkan pemerintah “Dorothea”

Kelhatannya anime ini akan mengkikuti tokoh utamanya, Maria, yang sepertinya selama ini mencari teman masa kecilnya, Veronnnica (Noni-noni blonde spory yang wow), dimana mereka berdua adalah satu-satunya penyintas dalam kehancuran desa peri kampung halaman mereka.

Menariknya, entah kenapa peri alter ego Maria desainnya dibuat mirip dengan Bunda Maria. Peri si Maria juga muncul untuk mendamaikan, mirip seperti Bunda Maria.

Vibe anime ini mirip dengan Violet Evergarden, yaitu bercerita tentang dunia sesudah perang. Dengan tambahan supranatural sebagai bumbu, saya rasa P.A. Works biasa melakukannya sih.

Openingnya keren, sangat cocok dengan nuansa kontennya. Endingnya juga bagus. Musik latarnya agak kurang pas di bagian yang santai seperti waktu ada pelelangan, tapi sangat pas di bagian yang intens seperti pertarungan.

Style gambarnya lain daripada yang lain, tapi tetap eye-catching dan enak dilihat. Seperti biasa P.A. Works jago dalam membuat inovasi. Saya juga melihat beberapa scene memakai gaya pewarnaan Runge Murata. Bayangkan! Murata-style dalam bentuk animasi! Ini gebrakan besar!

Walaupun tidak se-intens anime sebelah musim ini, tapi ini anime yang cukup berat untuk mengawali hari. Pantas dimasukkan ke dalam watch list kalian teambatch.


Leave a Reply